Sunday, 13 May 2018

Surat Terbuka

"Percayalah ini bukan sekedar soal eksistensi, ini perihal kebersihan hati. Ini perihal rencana Sang pemilik bumi"
Secarik kertas yang telah ku persiapkan terkhusus untuk mu, seseorang yang kini sedang membaca surat terbuka dari tempat mu di situ, rangkaian kata yang ku yakini akan mencoba mengulik lubuk hati mu. Hanya untuk mu... Terkhusus untuk mu.

Akan ku upas tuntas tentang penilaian diri, menyadarkan keberhakan seseorang untuk menghakimi, mulai membantu mencoba untuk mengklarifikasi, karna hidup ini bukan hanya perihal sebuah eksistensi, melainkan esensi hati. Percayalah kisah ini adalah mahakarya Sang pemilik bumi.


"Entah itu sebuah kebenaran? Atau hanya sebuah pembenaran?"
Begitu memilukan hati, asumsi tentang sebuah pribadi. Seakan-akan publik layak mengkonsumsi, perihal sikap hati, yang katanya menentukan harga diri. Entah hanya sekedar untuk eksistensi, atau memang hanya berniat untuk berdiskusi? Yang pasti hingga kini, aku masih bersikukuh untuk menghindari, bahkan diriku pun masih tak ku kenali. Bagaimana tentang kamu yang hanya sekelibat dikisah ini?

Benteng pelindung yang terus selalu dipertahankan, sadar betul itu membentuk gambaran sebuah keangkuhan. Begitu sangat menghindari sebuah keramaian, mengutuk keras sebuah ke akraban, mengharamkan sebuah penawaran. Dan yang lainnya sibuk menilai bahwa itu adalah sebuah keegoisan, sebuah amarah yang mudah tersulut dan sulit untuk diredamkan, sebuah pemikaran yang sulit dipecahkan. Begitulah harga dari seorang yang hanya ingin memiliki sebuah pertahanan. Entah itu sebuah kebenaran? Atau hanya sebuah pembenaran?

"Pernah kamu memiliki sebuah mutiara? Atau setidaknya sebuah barang yang cukup berharga? Atau mungkin seseorang yang sangat ingin engkau jaga? Bisakah sedikit saja kamu merasa?"
Sebuah rahasia yang akan sedikit dibagikan, tentang 3 pangeran dan 1 putri kecil yang sudah lama Tuhan titipkan. Berjuang mati-matian hanya karna tidak ingin mereka merasakan, tentang kerasnya kehidupan, tentang sakitnya sebuah perjuangan. Hanya ingin menyiapkan 4 jalan, untuk mereka yang sangat ingin selalu didekapkan.

Pernah kamu memiliki sebuah mutiara? Atau setidaknya sebuah barang yang cukup berharga? Atau mungkin seseorang yang sangat ingin engkau jaga? Bisakah sedikit saja kamu merasa? Bagaimana ajaibnya sebuah rasa cinta.

Mungkin begitu dulu aku menyebutnya, sebagai sebuah tumbal silsilah kebahagiaan. Tapi kini nyatanya aku disadarkan, begitulah panggilan yang sangat aku banggakan.


"Aku meyakini ini perihal sikap hati, entah itu menentukan penilaian diri, dan engkau bebas untuk menghakimi."
Akan ku berikan satu tips tentang kehidupan. Jika tidak sanggup memberi kebahagiaan, setidaknya jangan pernah berpikir untuk menyusahkan, apalagi hingga menyakitkan. Sadarkah kamu teman, bahkan hanya untuk mengikuti panggilan Tuhan, kamu harus rela bercucur darah merealisasikan. Lantas bagaimana nasib mereka yang baru saja engkau berikan hambatan?

Tidak perlu repot untuk berempati, terkadang kamu hanya butuh berdiam diri. Beberapa kondisi lebih membutuhkan untuk kamu ada disini. Bukan untuk membela diri, melainkan sepakat beriringan dijalan yang seharusnya terjadi.

Terima kasih sudah mau ada. Izinkan aku untuk tetap melakukan yang seharusnya. Aku meyakini ini perihal sikap hati, entah itu menentukan penilaian diri, dan engkau bebas untuk menghakimi.

Friday, 5 January 2018

The New Chapter...

Siapkah aku?
"Ribuan purnama merangkaikan sebuah masa, mengukirkan kalbu yang berbicara tentang rasa"
Jauh dari sebuah skenario yang kini telah terdegelasi secara apik, awalnya aku begitu meragukan tentang hal yang sangat menelisik. Setiap pandangan ku melesat jauh melirik, bersiaga tentang kapan diri ini sudah terlalu jauh keluar dan harus kembali menarik. Sunyi tanpa bisik, hanya pada saat itu yang mau aku tilik.

Keangkuhan ku begitu terasa, menganggap satu dari tercipta itu hal biasa. Menghadirkan sebuah rahasia, tentang kisah antara ada dan tiada.  Hingga ribuan purnama merangkaikan sebuah masa, mengukirkan kalbu yang berbicara tentang sebuah rasa

Kini babak baru tersedia didepan ku.... Siapkah aku?


Kamu...
"Poros kisah ku membalik, seperti mulai sedia mengulik. Penghapusan tentang sebuah titik, menjadi awal mula yang cukup menggelitik"
Rasanya seperti lembaran baru yang tertata rapi, menyiapkan diri... menyerahkan hati... Rasanya seperti sebuah perjalanan yang mulanya terhenti, kini tapak demi tapak siap untuk menelusuri. Entah sejauh mana waktu akan membawa kisah ini, tanpa perlu lama menanti, seakan sang kuasa telah merancang dan siap menemani.

Sesederhana itu kunci sebuah rahasia yang mengejutkan, terbilang teka teki yang awalnya terurungkan namun waktu lambat laun dengan mudah memecahkan. Rasanya kini memang benar, poros kisah ku mulai mebalik, seperti mulai sedia mengulik. Penghapusan sebuah titik, menjadi awal mula yang cukup menggelitik.

Dan kisah ku menemukan kamu...

Kisah ku dimulai, hati ku terkulai...
"Gerbang cerita ku terpapar, rasa yang kini mulai terbuka lebar.  Kisah ku siap dilepas kembali dari sangkar, mengisyaratkan akan terlaksananya sebuah ikrar"
Begitu pekat kini hati mulai kembali merasa, mensyukuri tentang sebuah kisah yang menciptakan masa. Langkah ku kini mulai menganalisa, tentang sepasang pribadi yang merancang untuk menjadi esa. Rasanya kini hati ku mulai terbiasa, terlibat dalam sebuah kisah yang mulai berbahasa. Benteng penutup diri yang awalnya menyiksa, kini siap memulai dan memberi kuasa.

Ribuan kata yang mulai terhampar, siap untuk menjadi penghantar. Sebuah cerita yang menjadi pembenar, tentang wujud sucinya janji altar. Kini gerbang cerita ku terpapar, rasa yang mulai terbuka lebar. Kisah ku siap dilepas kembali dari sangkara, mengisyaratkan akan terlaksananya sebuah ikrar.

Surat Terbuka

"Percayalah ini bukan sekedar soal eksistensi, ini perihal kebersihan hati. Ini perihal rencana Sang pemilik bumi"
Secarik kertas yang telah ku persiapkan terkhusus untuk mu, seseorang yang kini sedang membaca surat terbuka dari tempat mu di situ, rangkaian kata yang ku yakini akan mencoba mengulik lubuk hati mu. Hanya untuk mu... Terkhusus untuk mu.

Akan ku upas tuntas tentang penilaian diri, menyadarkan keberhakan seseorang untuk menghakimi, mulai membantu mencoba untuk mengklarifikasi, karna hidup ini bukan hanya perihal sebuah eksistensi, melainkan esensi hati. Percayalah kisah ini adalah mahakarya Sang pemilik bumi.


"Entah itu sebuah kebenaran? Atau hanya sebuah pembenaran?"
Begitu memilukan hati, asumsi tentang sebuah pribadi. Seakan-akan publik layak mengkonsumsi, perihal sikap hati, yang katanya menentukan harga diri. Entah hanya sekedar untuk eksistensi, atau memang hanya berniat untuk berdiskusi? Yang pasti hingga kini, aku masih bersikukuh untuk menghindari, bahkan diriku pun masih tak ku kenali. Bagaimana tentang kamu yang hanya sekelibat dikisah ini?

Benteng pelindung yang terus selalu dipertahankan, sadar betul itu membentuk gambaran sebuah keangkuhan. Begitu sangat menghindari sebuah keramaian, mengutuk keras sebuah ke akraban, mengharamkan sebuah penawaran. Dan yang lainnya sibuk menilai bahwa itu adalah sebuah keegoisan, sebuah amarah yang mudah tersulut dan sulit untuk diredamkan, sebuah pemikaran yang sulit dipecahkan. Begitulah harga dari seorang yang hanya ingin memiliki sebuah pertahanan. Entah itu sebuah kebenaran? Atau hanya sebuah pembenaran?

"Pernah kamu memiliki sebuah mutiara? Atau setidaknya sebuah barang yang cukup berharga? Atau mungkin seseorang yang sangat ingin engkau jaga? Bisakah sedikit saja kamu merasa?"
Sebuah rahasia yang akan sedikit dibagikan, tentang 3 pangeran dan 1 putri kecil yang sudah lama Tuhan titipkan. Berjuang mati-matian hanya karna tidak ingin mereka merasakan, tentang kerasnya kehidupan, tentang sakitnya sebuah perjuangan. Hanya ingin menyiapkan 4 jalan, untuk mereka yang sangat ingin selalu didekapkan.

Pernah kamu memiliki sebuah mutiara? Atau setidaknya sebuah barang yang cukup berharga? Atau mungkin seseorang yang sangat ingin engkau jaga? Bisakah sedikit saja kamu merasa? Bagaimana ajaibnya sebuah rasa cinta.

Mungkin begitu dulu aku menyebutnya, sebagai sebuah tumbal silsilah kebahagiaan. Tapi kini nyatanya aku disadarkan, begitulah panggilan yang sangat aku banggakan.


"Aku meyakini ini perihal sikap hati, entah itu menentukan penilaian diri, dan engkau bebas untuk menghakimi."
Akan ku berikan satu tips tentang kehidupan. Jika tidak sanggup memberi kebahagiaan, setidaknya jangan pernah berpikir untuk menyusahkan, apalagi hingga menyakitkan. Sadarkah kamu teman, bahkan hanya untuk mengikuti panggilan Tuhan, kamu harus rela bercucur darah merealisasikan. Lantas bagaimana nasib mereka yang baru saja engkau berikan hambatan?

Tidak perlu repot untuk berempati, terkadang kamu hanya butuh berdiam diri. Beberapa kondisi lebih membutuhkan untuk kamu ada disini. Bukan untuk membela diri, melainkan sepakat beriringan dijalan yang seharusnya terjadi.

Terima kasih sudah mau ada. Izinkan aku untuk tetap melakukan yang seharusnya. Aku meyakini ini perihal sikap hati, entah itu menentukan penilaian diri, dan engkau bebas untuk menghakimi.

The New Chapter...

Siapkah aku?
"Ribuan purnama merangkaikan sebuah masa, mengukirkan kalbu yang berbicara tentang rasa"
Jauh dari sebuah skenario yang kini telah terdegelasi secara apik, awalnya aku begitu meragukan tentang hal yang sangat menelisik. Setiap pandangan ku melesat jauh melirik, bersiaga tentang kapan diri ini sudah terlalu jauh keluar dan harus kembali menarik. Sunyi tanpa bisik, hanya pada saat itu yang mau aku tilik.

Keangkuhan ku begitu terasa, menganggap satu dari tercipta itu hal biasa. Menghadirkan sebuah rahasia, tentang kisah antara ada dan tiada.  Hingga ribuan purnama merangkaikan sebuah masa, mengukirkan kalbu yang berbicara tentang sebuah rasa

Kini babak baru tersedia didepan ku.... Siapkah aku?


Kamu...
"Poros kisah ku membalik, seperti mulai sedia mengulik. Penghapusan tentang sebuah titik, menjadi awal mula yang cukup menggelitik"
Rasanya seperti lembaran baru yang tertata rapi, menyiapkan diri... menyerahkan hati... Rasanya seperti sebuah perjalanan yang mulanya terhenti, kini tapak demi tapak siap untuk menelusuri. Entah sejauh mana waktu akan membawa kisah ini, tanpa perlu lama menanti, seakan sang kuasa telah merancang dan siap menemani.

Sesederhana itu kunci sebuah rahasia yang mengejutkan, terbilang teka teki yang awalnya terurungkan namun waktu lambat laun dengan mudah memecahkan. Rasanya kini memang benar, poros kisah ku mulai mebalik, seperti mulai sedia mengulik. Penghapusan sebuah titik, menjadi awal mula yang cukup menggelitik.

Dan kisah ku menemukan kamu...

Kisah ku dimulai, hati ku terkulai...
"Gerbang cerita ku terpapar, rasa yang kini mulai terbuka lebar.  Kisah ku siap dilepas kembali dari sangkar, mengisyaratkan akan terlaksananya sebuah ikrar"
Begitu pekat kini hati mulai kembali merasa, mensyukuri tentang sebuah kisah yang menciptakan masa. Langkah ku kini mulai menganalisa, tentang sepasang pribadi yang merancang untuk menjadi esa. Rasanya kini hati ku mulai terbiasa, terlibat dalam sebuah kisah yang mulai berbahasa. Benteng penutup diri yang awalnya menyiksa, kini siap memulai dan memberi kuasa.

Ribuan kata yang mulai terhampar, siap untuk menjadi penghantar. Sebuah cerita yang menjadi pembenar, tentang wujud sucinya janji altar. Kini gerbang cerita ku terpapar, rasa yang mulai terbuka lebar. Kisah ku siap dilepas kembali dari sangkara, mengisyaratkan akan terlaksananya sebuah ikrar.