"Akan Aku deklarasikan, sebuah sabda yang menyadarkan. Jauh dari sebuah kesempurnaan, tapi kini sangat Aku yakinkan"
Rasanya kini mulai pelik, alur yang sungguh sangat menggelitik. Tentang sebuah kenangan ritma yang terus mengusik, seakan melupakan waktu yang terus mengulik. Kini selalu tergericik, kata rindu yang tersadar tak pernah membalik, jauh dari angan yang mencoba membisik. Ingin sungguh aku kritik, membuat Sang Kuasa tak akan mampu berkutik.
Sempat terbesit alur butuh jeda, tentang cerita yang melupa makna cinta, mengerut rasa yang pernah ada, menata kehendak yang katanya harus terjaga. Sempat mengalir benci yang mendera, bertahan hanya dengan alasan terbiasa, memungkiri waktu yang seakan terus menyiksa.
Harus diakui, ego yang selalu bertahta dihati, memahat semangat untuk menyakiti... bukan menyakiti, kita saja yang enggan berhenti untuk menelisik lebih lagi. Kita yang terlalu terburu-terburu memaknai, arti dari kata mencintai, dengan gaya seakan kita adalah ahli, dengan rasa kita paling mengerti rencana Ilahi.
Akhirnya rasa memahat jarak, memutuskan untuk berada ditengah abstrak, menata seolah memulai sebuah babak, memaksa diri untuk terus bergerak. Waktu ke waktu kisah mulai mengelak, tentang rindu yang terus melonjak, hanya mengerti cara meninggalkan jejak, enggan berhenti dihati lalu terjebak. Kenyataan mulai mendesak, satu persatu wanita yang hadir mulai berdampak, hati yang mulai sesak, sungguh seakan mampu menolak, tapi nyatanya jiwa itu tempat untuk bertolak.
Semua mulai terurai, kita kembali. Cerita yang kian terurai dan kali ini mampu untuk memahami, benar kita sudah dimuara hati, kita hanya perlu mengendap dan berhenti. Terima kasih sudah saling menyakiti, mendelegasikan cerita yang penuh arti, mebuat belajar apa itu makna kata mengerti, membuat jiwa lebih giat mempelajari.
Selalu ada kata sayang disetiap kesalahan, selalu ada cinta disetiap kelalaian, selalu ada kata aku pulang disetiap proses perpisahan. Kini hati mau menjaga 1 titik yang sepatutnya ditetapkan. Mari sebagai esa kita deklarasikan, sebuah sabda yang menyadarkan. Jauh dari kata kesempuranna, tapi kini sangat diyakinkan.
Sempat terbesit alur butuh jeda, tentang cerita yang melupa makna cinta, mengerut rasa yang pernah ada, menata kehendak yang katanya harus terjaga. Sempat mengalir benci yang mendera, bertahan hanya dengan alasan terbiasa, memungkiri waktu yang seakan terus menyiksa.
Harus diakui, ego yang selalu bertahta dihati, memahat semangat untuk menyakiti... bukan menyakiti, kita saja yang enggan berhenti untuk menelisik lebih lagi. Kita yang terlalu terburu-terburu memaknai, arti dari kata mencintai, dengan gaya seakan kita adalah ahli, dengan rasa kita paling mengerti rencana Ilahi.
Akhirnya rasa memahat jarak, memutuskan untuk berada ditengah abstrak, menata seolah memulai sebuah babak, memaksa diri untuk terus bergerak. Waktu ke waktu kisah mulai mengelak, tentang rindu yang terus melonjak, hanya mengerti cara meninggalkan jejak, enggan berhenti dihati lalu terjebak. Kenyataan mulai mendesak, satu persatu wanita yang hadir mulai berdampak, hati yang mulai sesak, sungguh seakan mampu menolak, tapi nyatanya jiwa itu tempat untuk bertolak.
Semua mulai terurai, kita kembali. Cerita yang kian terurai dan kali ini mampu untuk memahami, benar kita sudah dimuara hati, kita hanya perlu mengendap dan berhenti. Terima kasih sudah saling menyakiti, mendelegasikan cerita yang penuh arti, mebuat belajar apa itu makna kata mengerti, membuat jiwa lebih giat mempelajari.
Selalu ada kata sayang disetiap kesalahan, selalu ada cinta disetiap kelalaian, selalu ada kata aku pulang disetiap proses perpisahan. Kini hati mau menjaga 1 titik yang sepatutnya ditetapkan. Mari sebagai esa kita deklarasikan, sebuah sabda yang menyadarkan. Jauh dari kata kesempuranna, tapi kini sangat diyakinkan.
