Saturday, 19 August 2017

?

Aku bungkam...
"Keadaan memaksa ku untuk menarik diri dan bungkam. Menilisik diri jauh lebih dalam"
Setapak demi setapak aku mulai melewati arus yang berbeda, memenuhi pikiran dengan berbagai pertanyaan dunia. Setelah jalan berliku yang telah kita lalui bersama, membuat aku mengerti sedikit demi sedikit apa itu mencinta dan dicinta.

Pribadi ku mulai tercipta, memang tidak begitu sempurna. Tapi setidaknya telah mematangkan aku tentang apa itu cinta, apa itu pria, apa itu dunia. 

Tiga hal yang menciptakan sebuah keadaan yang menikam. Keadaan yang memaksa ku untuk menarik diri dan bungkam. Menilisik diri jauh lebih dalam.

Pandangan ku melesat jauh...
"Kehadiran mu kini telah memecat, keheningan yang sudah sangat lama terpahat"
Ketangguhan ku mulai teruji, ketika hendak memulai sesuatu yang telah lama terhenti. Menapaki tempat yang tak terasingi, mulai membisakan diri kembali. Pribadi yang mulai mengerti, tentang apa itu perasaan hati. Mengungkap satu persatu misteri.

Sampai pada akhirnya aku berada di titik yang tak biasa. Menyadari setiap tapak kaki ini mebuat hati ku terbuka, kebolehan alam membuat pribadiku semakin tercipta, kebebasan ini membuat jiwa ku melambung jauh ke angkasa, menuju kaki sang kuasa.

Pandangan ku sangat jauh melesat, jiwa ku semakin mendekat. Satu persatu kepingan hati mulai saling terikat, jiwa mu amat sangat memikat. Kehadiran mu kini telah memecat, keheningan yang sudah sangat lama terpahat.

Hentikan waktu...
"Kini telah aku temukan... Kini telah aku dapatkan..."
Tapak kaki mulai terhentikan, seolah mendapat sebuah kepastian. Ruang hampa yang menjadi sandaran, dunia baru yang menyajikan berbagai kesempatan. Jiwa ku telah menyerukan, kebebasan yang tak pernah terbayarkan. Hanya karna sebuah gengaman, hati ku kini telah menjadi satu kesatuan.

Kini telah aku temukan, sesuatu yang sangat menyejukan. Hadir dengan cara yang tak terfikirkan, memikat jiwa yang telah lama terasingkan. Kini telah aku dapatkan, alur yang menjadi kunci untuk sebuah kebungkaman. Mulai menikmati sebuah perjalanan, dengan alur yang masih tersimpan rapih kehidupan.

Thursday, 23 March 2017

-

Kita melupakan kesibukan Jakarta kala itu...
"Bukan Jakarta yang sedang damai, kitanya saja yang menghiraukan betapa sibuknya Jakarta kala itu..."
Aku masih ingat betul, suasana Jakarta kali itu. Begitu dalam, kedamaiannya berbekas di hati ku hingga kini. Bukan si kota metropolis itu yang sedang rehat dari kesibukan 24 jamnya. Hanya saja kita yang sedang kalap dengan keadaan hingga menghiraukan betapa sibuknya Jakarta kala itu.

Waktu pertama hamparan gedung menunjukan kebolehannya. Kata mu mereka hebat, kata mu mereka menakjubkan. Pandangan ku terhempas liar diantara gedung-gedung kokoh yang menjulang ke angkasa. Rasanya semua jiwa raga ku ikut terbang hingga menembus balutan awan menuju kaki Tuhan.

Dan aku terperangkap didalam kecemasan mu...
"Pada akhirnya aku yang terperangkap pada kondisi yang telah engkau rancang secara apik dibenak pemikiran mu"
Masih terasa kental di pikiran ku, wajah cemas buruk sangka diraut wajah mu tentang Kota Istimewa itu. Masih jelas kekhawatiran mu tentang jurang yang mulai engkau rasakan. Taukah sayang, bukan engkau yang tetap berada di bawah kecemasan mu, tapi nyatanya aku yang terperangkap didalam kondisi yang engkau cemaskan.

Engkau begitu aku banggakan, engkau begitu aku kagumkan. Tidak sedikit pun cemas yang aku berikan, begitu indahnya dirimu dipikiran, hingga tidak ada kekhawatiran apalagi keraguan. Sampai pada akhirnya aku melupa, kamu hanyalah sesosok manusia biasa.

Seharusnya bukan engkau yang mengkhawatirkan segala sesuatu. Menyalahkan kondisi, menahan waktu, mengutuk jarak yang akan terpahat apik diantara diri mu dan aku.

Aku menunggu mu bersama purnama yang engkau 
janjikan...
"Aku menunggu mu bersama puluhan purnama. Menjadikan teman yang selalu menanti. Berbagi cerita setiap pelipur hati. Menjaga rahasia yang terhenti"
Puluhan purnama aku menyimpan semua misteri ini. Mengabaikan yang seharusnya terselesaikan, mengubur yang seharusnya terabadikan, meningglakan yang seharusnya ditetapkan. Aku telah mengarsip mu, menganggap perkara kita sudah diputuskan. Tidak perlu naik banding. Semua dapat dengan cepat terputuskan.

Terima kasih telah membentuk ku...
"Hanya saja engkau telah membuktikan satu bait Allah, hanya ada satu dari setiap tercipta"
Aku semakin tumbuh, banyak hal yang terjadi setelah engkau tak kembali. Bukan, bukan engkau yang tak kembali. Nyatanya aku si terlewat bijaksana ini yang pergi. Kita terhenti! Alam sudah memberi, kitanya saja yang terlalu angkuh memahami. Entah di kehidupan mana lagi akan terukir.

Terima kasih telah membentuk ku, menempatkan ku pada posisi sekarang. Memang masih jauh dari kata sempurna, namun setidaknya sudah jauh lebih baik dibandingkan riwayat ku yang telah berlalu bukan?

Tak pernah tersesali, tak ingin terulangi. Hanya saja satu bait Allah telah terbukti "hanya ada satu dari setiap tercipta". Dan aku tetap menghargai...

?

Aku bungkam...
"Keadaan memaksa ku untuk menarik diri dan bungkam. Menilisik diri jauh lebih dalam"
Setapak demi setapak aku mulai melewati arus yang berbeda, memenuhi pikiran dengan berbagai pertanyaan dunia. Setelah jalan berliku yang telah kita lalui bersama, membuat aku mengerti sedikit demi sedikit apa itu mencinta dan dicinta.

Pribadi ku mulai tercipta, memang tidak begitu sempurna. Tapi setidaknya telah mematangkan aku tentang apa itu cinta, apa itu pria, apa itu dunia. 

Tiga hal yang menciptakan sebuah keadaan yang menikam. Keadaan yang memaksa ku untuk menarik diri dan bungkam. Menilisik diri jauh lebih dalam.

Pandangan ku melesat jauh...
"Kehadiran mu kini telah memecat, keheningan yang sudah sangat lama terpahat"
Ketangguhan ku mulai teruji, ketika hendak memulai sesuatu yang telah lama terhenti. Menapaki tempat yang tak terasingi, mulai membisakan diri kembali. Pribadi yang mulai mengerti, tentang apa itu perasaan hati. Mengungkap satu persatu misteri.

Sampai pada akhirnya aku berada di titik yang tak biasa. Menyadari setiap tapak kaki ini mebuat hati ku terbuka, kebolehan alam membuat pribadiku semakin tercipta, kebebasan ini membuat jiwa ku melambung jauh ke angkasa, menuju kaki sang kuasa.

Pandangan ku sangat jauh melesat, jiwa ku semakin mendekat. Satu persatu kepingan hati mulai saling terikat, jiwa mu amat sangat memikat. Kehadiran mu kini telah memecat, keheningan yang sudah sangat lama terpahat.

Hentikan waktu...
"Kini telah aku temukan... Kini telah aku dapatkan..."
Tapak kaki mulai terhentikan, seolah mendapat sebuah kepastian. Ruang hampa yang menjadi sandaran, dunia baru yang menyajikan berbagai kesempatan. Jiwa ku telah menyerukan, kebebasan yang tak pernah terbayarkan. Hanya karna sebuah gengaman, hati ku kini telah menjadi satu kesatuan.

Kini telah aku temukan, sesuatu yang sangat menyejukan. Hadir dengan cara yang tak terfikirkan, memikat jiwa yang telah lama terasingkan. Kini telah aku dapatkan, alur yang menjadi kunci untuk sebuah kebungkaman. Mulai menikmati sebuah perjalanan, dengan alur yang masih tersimpan rapih kehidupan.

-

Kita melupakan kesibukan Jakarta kala itu...
"Bukan Jakarta yang sedang damai, kitanya saja yang menghiraukan betapa sibuknya Jakarta kala itu..."
Aku masih ingat betul, suasana Jakarta kali itu. Begitu dalam, kedamaiannya berbekas di hati ku hingga kini. Bukan si kota metropolis itu yang sedang rehat dari kesibukan 24 jamnya. Hanya saja kita yang sedang kalap dengan keadaan hingga menghiraukan betapa sibuknya Jakarta kala itu.

Waktu pertama hamparan gedung menunjukan kebolehannya. Kata mu mereka hebat, kata mu mereka menakjubkan. Pandangan ku terhempas liar diantara gedung-gedung kokoh yang menjulang ke angkasa. Rasanya semua jiwa raga ku ikut terbang hingga menembus balutan awan menuju kaki Tuhan.

Dan aku terperangkap didalam kecemasan mu...
"Pada akhirnya aku yang terperangkap pada kondisi yang telah engkau rancang secara apik dibenak pemikiran mu"
Masih terasa kental di pikiran ku, wajah cemas buruk sangka diraut wajah mu tentang Kota Istimewa itu. Masih jelas kekhawatiran mu tentang jurang yang mulai engkau rasakan. Taukah sayang, bukan engkau yang tetap berada di bawah kecemasan mu, tapi nyatanya aku yang terperangkap didalam kondisi yang engkau cemaskan.

Engkau begitu aku banggakan, engkau begitu aku kagumkan. Tidak sedikit pun cemas yang aku berikan, begitu indahnya dirimu dipikiran, hingga tidak ada kekhawatiran apalagi keraguan. Sampai pada akhirnya aku melupa, kamu hanyalah sesosok manusia biasa.

Seharusnya bukan engkau yang mengkhawatirkan segala sesuatu. Menyalahkan kondisi, menahan waktu, mengutuk jarak yang akan terpahat apik diantara diri mu dan aku.

Aku menunggu mu bersama purnama yang engkau 
janjikan...
"Aku menunggu mu bersama puluhan purnama. Menjadikan teman yang selalu menanti. Berbagi cerita setiap pelipur hati. Menjaga rahasia yang terhenti"
Puluhan purnama aku menyimpan semua misteri ini. Mengabaikan yang seharusnya terselesaikan, mengubur yang seharusnya terabadikan, meningglakan yang seharusnya ditetapkan. Aku telah mengarsip mu, menganggap perkara kita sudah diputuskan. Tidak perlu naik banding. Semua dapat dengan cepat terputuskan.

Terima kasih telah membentuk ku...
"Hanya saja engkau telah membuktikan satu bait Allah, hanya ada satu dari setiap tercipta"
Aku semakin tumbuh, banyak hal yang terjadi setelah engkau tak kembali. Bukan, bukan engkau yang tak kembali. Nyatanya aku si terlewat bijaksana ini yang pergi. Kita terhenti! Alam sudah memberi, kitanya saja yang terlalu angkuh memahami. Entah di kehidupan mana lagi akan terukir.

Terima kasih telah membentuk ku, menempatkan ku pada posisi sekarang. Memang masih jauh dari kata sempurna, namun setidaknya sudah jauh lebih baik dibandingkan riwayat ku yang telah berlalu bukan?

Tak pernah tersesali, tak ingin terulangi. Hanya saja satu bait Allah telah terbukti "hanya ada satu dari setiap tercipta". Dan aku tetap menghargai...