![]() |
| Kita melupakan kesibukan Jakarta kala itu... |
"Bukan Jakarta yang sedang damai, kitanya saja yang menghiraukan betapa sibuknya Jakarta kala itu..."
Aku masih ingat betul, suasana Jakarta kali itu. Begitu dalam, kedamaiannya berbekas di hati ku hingga kini. Bukan si kota metropolis itu yang sedang rehat dari kesibukan 24 jamnya. Hanya saja kita yang sedang kalap dengan keadaan hingga menghiraukan betapa sibuknya Jakarta kala itu.
Waktu pertama hamparan gedung menunjukan kebolehannya. Kata mu mereka hebat, kata mu mereka menakjubkan. Pandangan ku terhempas liar diantara gedung-gedung kokoh yang menjulang ke angkasa. Rasanya semua jiwa raga ku ikut terbang hingga menembus balutan awan menuju kaki Tuhan.
![]() |
| Dan aku terperangkap didalam kecemasan mu... |
"Pada akhirnya aku yang terperangkap pada kondisi yang telah engkau rancang secara apik dibenak pemikiran mu"
Masih terasa kental di pikiran ku, wajah cemas buruk sangka diraut wajah mu tentang Kota Istimewa itu. Masih jelas kekhawatiran mu tentang jurang yang mulai engkau rasakan. Taukah sayang, bukan engkau yang tetap berada di bawah kecemasan mu, tapi nyatanya aku yang terperangkap didalam kondisi yang engkau cemaskan.
Engkau begitu aku banggakan, engkau begitu aku kagumkan. Tidak sedikit pun cemas yang aku berikan, begitu indahnya dirimu dipikiran, hingga tidak ada kekhawatiran apalagi keraguan. Sampai pada akhirnya aku melupa, kamu hanyalah sesosok manusia biasa.
Seharusnya bukan engkau yang mengkhawatirkan segala sesuatu. Menyalahkan kondisi, menahan waktu, mengutuk jarak yang akan terpahat apik diantara diri mu dan aku.
![]() |
Aku menunggu mu bersama purnama yang engkau
janjikan...
|
"Aku menunggu mu bersama puluhan purnama. Menjadikan teman yang selalu menanti. Berbagi cerita setiap pelipur hati. Menjaga rahasia yang terhenti"
Puluhan purnama aku menyimpan semua misteri ini. Mengabaikan yang seharusnya terselesaikan, mengubur yang seharusnya terabadikan, meningglakan yang seharusnya ditetapkan. Aku telah mengarsip mu, menganggap perkara kita sudah diputuskan. Tidak perlu naik banding. Semua dapat dengan cepat terputuskan.
![]() |
| Terima kasih telah membentuk ku... |
"Hanya saja engkau telah membuktikan satu bait Allah, hanya ada satu dari setiap tercipta"
Aku semakin tumbuh, banyak hal yang terjadi setelah engkau tak kembali. Bukan, bukan engkau yang tak kembali. Nyatanya aku si terlewat bijaksana ini yang pergi. Kita terhenti! Alam sudah memberi, kitanya saja yang terlalu angkuh memahami. Entah di kehidupan mana lagi akan terukir.
Terima kasih telah membentuk ku, menempatkan ku pada posisi sekarang. Memang masih jauh dari kata sempurna, namun setidaknya sudah jauh lebih baik dibandingkan riwayat ku yang telah berlalu bukan?
Tak pernah tersesali, tak ingin terulangi. Hanya saja satu bait Allah telah terbukti "hanya ada satu dari setiap tercipta". Dan aku tetap menghargai...



